Minggu, 20 Juli 2008

Windows Versus Linux Imbang?

Perbedaan biaya yang utama, ujar analis Yankee Group Laura DiDio, ditentukan oleh lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan aplikasi atau memastikan security dari server ataupun networked computers yang menyimpan data."Yang kami temukan adalah, soal biaya tidak hanya bergantung pada fungsi dasar pada operating system utama," ujar DiDio.

Studi ini juga menyebutkan, 88% responden menyatakan bahwa kualitas, performa dan kehandalan dari Windows setara atau lebih dari baik daripada Linux. Linux, yang bisa diperbanyak dan dimodifikasi secara bebas, tidak seperti proprietary software seperti Windows operating system milik Microsoft, telah terlibat dalam persaingan dalam beberapa tahun terakhir dengan Windows Server software dalam memperebutkan pasar corporate. Dalam banyak kasus, baik Linux maupun Windows telah tumbuh melampaui Unix-based servers milik Sun Microsystem, yang pernah berjaya pada tahun 1990-an.

DiDio menyatakan bahwa sebagian besar perusahan-besar atau kecil- terhitung jarang melakukan perubahan drastis pada operating system yang digunakan. Sebaliknya, mereka terbiasa mengkombinasikan Windows dan Linux server software untuk memperluas kebutuhannya.

Matthew Szulik, Chief Executive Red Hat Inc., salah satu distributor Linux terbesar di dunia menyatakan, beberapa pelanggan mereka merasakan penurunan biaya operasinya setelah menggunakan Linux.

Microsoft Pertajam Kampanye Anti Linux

Walaupun hasil studi tersebut sama sekali tidak menempatkan Microsoft di bawah LInux, namun vendor raksasa itu nampak "tidak terima" dengan hasil penelitian tersebut. Responnya sangat cepat, dan perusahaan software terkemuka tersebut balik mempertajam kampanye anti Linux. Microsoft terus melanjutnya program "Get the Facts" yang telah digagas sejak tahun 2003 ini, untuk menguliti sejumlah kelemahan yang dimiliki oleh Linux.

Tidak cukup dengan program tersebut, Microsoft telah melakukan penelitian tandingan yang hasilnya "bagai bumi dengan langit" dengan apa yang disimpulkan oleh Yankee Group. Dengan meminjam tangan Veritest-yang jelas-jelas atas permintaan Microsoft, lembaga penelitian tersebut melaksanakan penelitian yang membandingkan antara kehandalan "Windows Server 2003" dengan Red Hat "Enterprise Linux".

Penelitian itu dilakukan kepada masing-masing 18 System Administrator dari camp Windows dan Linux, yang meneliti perbedaan sistem lingkungan masing-masing, sekitar 4 hari, dimana kriteria penilaian berdasarkan atas failure time cost untuk konfigurasi dan pemeliharaan Infrastruktur.

Hasilnya tentu saja sudah bisa ditebak. Berdasarkan studi Veritest tersebut, terdapat sekitar 15% failure time lebih tinggi dalam produk Linux ketimbang dalam lingkungan Windows. Selain itu, para Windows Administrator lebih mudah dalam melakukan pekerjaan, dan tercatat hanya membutuhkan sedikit waktu. Linux Adminstrator sebaliknya memiliki banyak masalah akibat kurangnya dokumentasi seperti tidak adanya Integration untuk pertahanan.

Kontradiksi

Namun, hasil penelitian Veritest tersebut langsung disambar oleh bantahan dari kuasa hukum Open Source Bruce Perrins. Ia mengenyampingkan argumentasi Microsofts untuk Windows yang lebih terpercaya, dengan satu-satunya point, yakni Virus. Suatu ketika, ujar Bruce, didapati sekitar 30 virus dalam e-Mail box mereka. Virus itu sendiri yang "berbicara" melawan kepercayaan Windows System. Virus itu datang dari sistem anti Virus, yang berkembang mengakibatkan kerusakan tanpa kontrol atas Netz. Hal itulah, tegasnya, yang tidak terdapat dalam lingkungan Linux.

Tidak ada komentar: